Peta Informasi Kota Tegal


View Peta Informasi Kota Tegal in a larger map

Menikmati Lesehan Nasi Gudheg

Read more 0
Nasi Gudheg Lesehan Alun-alun kota Tegal 

                                     Foto Gopries'82
Gudeg (bahasa jawa Gudheg) yaitu masakan khas Jogjakarta dan Jawa Tengah yang terbuat dari nangka muda yang dimasak berjam-jam dengan diberi santan. Warna coklat tua biasanya dihasilkan oleh daun jati yang dimasak bersamaan. Gudheg dimakan dengan nasi dan disajikan dengan kuah santan kental (areh), ayam kampung, telur, tahu, dan sambal goreng krecek.(Wikipedia Indonesia).

Makanan khas nasi gudheg ini telah menyebar di daerah-daerah/kota-kota wilayah Indonesia. Model tempat berjualannya bermacam-macam baik berupa RM / Restoran, rumah makan berupa kedai/kios di pasar2, secara lesehan di pinggir jalan sekitar alun-alun dengan menggunakan tenda2, maupun berjualan dengan menggunakan sarana kendaraan roda empat yang bisa berpindah-pindah dan mangkal di suatu tempat keramaian atau tempat-tempat wisata.

Untuk mengenang ketika itu tahun 80-an makan nasi gudheg lesehan di Jogjakarta, setiap kangen dengan masakan gudheg saya tidak perlu harus jauh-jauh pergi ke Jogja cukup dengan sepeda onthel (nggowes) sabtu atau minggu pagi sambil berolah raga menyempatkan diri mampir di lesehan nasi gudheg di kawasan alun-alun tegal tepatnya di barat (depan) Kantor BRI cabang Tegal. Bapak yang sudah umur berasal dari Jogja menjajakan nasi gudhegnya dengan menggunakan kendaraan pick up roda empat dan selalu mangkal di situ. Menurutnya ketika saya ngobrol-ngobrol , Jualan kelilingnya ini merupakan cabang dari Rumah Makan yang dimilikinya di jalan Kapten Ismail (depan Indomart) kota Tegal.

 Banyak pengunjung : tua, muda, dan anak-anak yang menikmati nasi gudheg mobil di lokasi ini. Tempat yang strategis, nyaman, dan berkesan santai membuat daya tarik tersendiri bagi para penggemar nasi gudheg. Apalagi setelah kita menikmati nasi gudhegnya .... mak nyuuuus rasanya. Dan menikmati segelas teh panasnya .... sruput nikmatnya. Monggo silahkan berkunjung dan mencobanya....

Sekedar uneg-uneg : Maz Tanto’82.

                                                                                                       Foto Gopries'82


                                                                                                           Foto Gopries'82


Semar Resto-Kuliner

Read more 0
Semar Resto dan Joglo Sasono Mulyo 

   Semar Resto/Foto Gopries82
Semar Resto dan Joglo Sasono Mulyo , terletak di jalan raya solo –Boyolali dengan lingtang 7 32' 33" (S) dan Bujur 110 37' 34" (T) tepatnya di sebelah selatan jalan raya kurang lebih 4500 m ke arah barat dari Depo Pertamina atau + 10.000 m dari Gapura Batas Wilayah Kabupaten Boyolali dengan Kabupaten Sukoharjo. Restoran tersebut terletak di wilayah Kabupaten Boyolali.

Dalam perjalanan pulang dari Solo menuju Semarang tanggal 1 Juni 2011, Pada saat saya hendak beristirahat makan siang dan melaksanakan kewajiban sholat dhuhur ketika itu jarum jam sudah menunjukkan pukul 14.00 saya singgah di sebuah tempat Rumah Makan/restoran yang representatip, nyaman dan asri dengan area parkir yang sangat memadai serta nyaman. Ketika saya turun dari kendaraan dan memasuki ruangan restoran, saya tertarik dengan gaya ruangan dan meubel/ meja kursi makannya di desain ala budaya jawa yang unik. Dinding rumah sengaja di desain setinggi 90 – 100 cm sehingga tampak terbuka dengan udara luar. Dan dikombinasi dengan meletakkan kere (istilah Jawa) terbuat dari bambu yang bisa di gulung dan dibentangkan, ornamen ini menambah kesan asri. Usuk dan reng sengaja dibiarkan terbuka tidak tertutup dengan plavon menambah keunikan ruangan seperti rumah-rumah budaya jawa jaman doeloe. Tiang saka atau penyangga rumah didesain bulat berdiameter + 60 cm, bila kita melihatmya sepintas tampak seperti batang/glondongan kayu jati ungkul. Ketika saya hendak Sholat dhuhur, saya lebih terkesan lagi dimana mushola terbuat dari kayu dengan model panggung dan dinding setengah terbuka, desain ini sepertinya memanfaatkan udara dari luar. Disebelah selatan mushola terdapat rumah joglo sangat besar dengan model gaya keratonan. Joglo ini disebutnya Sasono Mulyo, konon Joglo tersebut sering digunakan untuk pertemuan-pertemuan atau digunakan untuk acara pernikahan. Ketiga bangunan inti yaitu Rumah Makan/Restoran, Mushola dan Rumah Joglo dan ada beberapa kamar untuk penginapan. Prediksi saya mungkin dimanfaatkan untuk menginap para keluarga dari temanten kakung atau keluarga temanten putri, bila ada acara pernikahan. Bangunan-bangunan tersebut berdiri di dalam satu bidang tanah yang luas dan berpagar keliling. Halaman yang ada memang tertata rapi, kombinasi paving blog dengan rumput yang terpotong rapi serta tanaman palm . (namun menurut saya bila halaman yang luas tersebut sedikit di poles dengan taman akan lebih asri).

Rumah Joglo Sasono Mulyo

                                                                                                                                                     Sasono Mulyo/Foto Gopries82
Rumah Joglo ini berukuran kurang lebih panjan 25 m, Lebar 25 m, dengan desain gaya/ model Rumah joglo keratonan dan digunakan untuk acara pertemuan dan pernikahan.

Restoran / Rumah Makan

                                                                                                                                                     Semar Resto/Foto Gopries82
 Restoran atau Rumah makan (Semar Resto) ini berukuran kurang lebih panjang muka 15 m dan lebar samping 20 m. Dengan gaya rumah khas jawa jaman doeloe. Dinding setengah terbuka dengan tinggi + 90 – 100 cm. Dan dikombinasi dengan kere terbuat dari bambu.

Menu Hidangan

                                                                                                                                             Menu Semar Resto/Foto Gopries82

Menikmati Hidangan

                                                                                                               Menikmati Hidangan Semar Resto/Foto Gopries82


Oleh: Maz Prihartanto

Wisata Kuliner

Read more 0
Warung Pak Di, Warung Makan Nasi Bandeng dan Oseng dibuka jam 17.00 sampai jam 22.00. Memang lezat rasanya semua hidangan yang disajikan .... mak nyuuuuus. Bila anda berkunjung ke Kota solo, jangan lupa nikmati “Warung Pak Di” Mangkunegaran – Solo.

KOTA Solo dikenal sebagai gudangnya wisata kuliner. Di kota ini, banyak sekali aneka hidangan disajikan antara lain : Tengkleng, Nasi Liwet, Soto , dan sebagainya. Dan yang tidak kalah menariknya dari semua jenis hidangan khas Solo adalah Nasi Kucing Bungkus Koran atau daun pisang. Umumnya Warung-warung yang menyajikan nasi kucing buka mulai jam 17.00 sampai jam 00.00 (malam hari).

Dalam perjalanan saya ke Solo dalam rangka menghantarkan putri sulungku untuk registrasi di Universitas Sebelas Maret Solo pada tanggal 30 Mei – 01 Juli 2011, saya menyempatkan diri mampir di warung nasi kucing yang mana di Solo dikenal dengan sebutan HIK (Hidangan Istimewa Kampung). Kesempatan ini saya lakukan guna mengingat masa-masa sewaktu kuliah di Yogya dengan istilah nasi kucing atau angkringan. (Konon dengan makan nasi kucing bungkus koran, atau bungkus daun pisang, banyak sekali para mahasiswa penikmat nasi kucing bungkus koran sukses bahkan berhasil menjadi menteri ....he..he..he).

Warung Pak Di
Mangkunegaran-Solo, Warung Makan Nasi Bandeng dan Oseng

Warung Pak Di, ini, Sangat strategi letak dan lokasinya yaitu di komplek Mangkunegaran – Solo. Warung ini berdiri sejak tahun 1978, sehingga sampai saat saya menikmati hidangan pada tanggal 3i Mei 2011 jam 20.00 sampai jam 21.30, sudah 30(tiga puluh tiga) tahun. Tampak kesederhanaan dalam penampilan warung tersebut namun bersih, sehingga hal ini membuat tertariknya para pengunjung untuk mengunjunginya. Apalagi beraneka ragam menu yang disajikan, mulai dari nasi bandeng , nasi oseng , Mihun, yang semuanya dikemas dengan daun pisang, dan berbagai lauk pauk tempe bacem. Tahu bacem, sate dan beraneka gorengan :tempe goreng, tahu goreng dan pisang goreng, dan lain-lain. Dan bermacam Minuman penghangat tubuh di malam hari antara lain : wedang teh panas, wedang jahe, wedang jeruk, wedang kopi dan sebagainya yang semuanya memberikan kesan merakyat. Kesan inilah yang membuat kita semuanya betah/krasan untuk duduk lama menikmati hidangannya yang lezat sambil berbincang mengenang cerita lama semasa sekolah (yang kebetulan saat ini saya ditemeni dengan 2 rekan SMA). Yah.... merdeka, senang dan nikmat.

Warung Pak Di, Warung Makan Nasi Bandeng dan Oseng dibuka jam 17.00 sampai jam 22.00. Memang lezat rasanya semua hidangan yang disajikan .... mak nyuuuuus. Bila anda berkunjung ke Kota solo, jangan lupa nikmati “Warung Pak Di” Mangkunegaran – Solo.

Oleh : Maz Prihartanto

Garang Asem Ayam Kampung dari Kudus

Read more 0
Garang Asem (foto google)
Garang asem? Bagi sebagian orang, menu ini mungkin asing. Garang asem yang konon masakan khas Purwodadi, Jawa Tengah, ini biasa disantap sebagai lauk alias teman nasi. Rasanya segar karena berkuah dan tanpa santan.

Jika Anda jalan-jalan ke Kudus, cobalah mampir ke Rumah Makan Sari Rasa. Anda akan menjumpai garang asem yang begitu lezat dan segar.

Nama garang asem hakikatnya merujuk pada rasa makanan dan cara memasaknya. Garang asem adalah lauk yang dimasak dengan cara dibungkus daun pisang dan dikukus (digarang/dipanaskan). Lauknya bisa apa saja, seperti berlaku pada masakan pepes, misalnya ayam, jeroan, ikan, jamur, atau tahu. Rasanya agak asem (asam) karena lauk tadi dicampuri irisan tomat hijau.

Kami sendiri sudah sedemikian akrab dengan masakan ini. Di Solo banyak dijumpai warung yang menjual menu ini, apalagi di Purwodadi yang berjarak sekitar 40 kilometer dari Kudus. Garang asem juga mudah ditemui di Yogyakarta dan bahkan Jakarta. Di warung-warung kecil, seumpama warung Mbak Har di kompleks Bujana Tirta, Rawamangun, Jakarta Timur, garang asem juga ditawarkan.

Sudah lewat jam makan siang ketika kami tiba di Sari Rasa, Jalan Agil Kusumadya, Jati Kulon, Kudus, pekan lalu. Pukul 14.15 itu matahari terik. Ternyata dugaan kami meleset, warung masih riuh pengunjung sampai kami harus menyisir bangku, mencari yang masih lega. Seorang pengunjung beringsut saat kami duduk di bangku dekat pintu.

”Setiap hari ramai seperti ini,” kata Gunawan, sahabat yang berdomisili di Kudus dan merekomendasikan tempat ini. Seorang pelayan datang dan bertanya, ”Minumnya apa?” Dia tak menanyakan pesanan kami, padahal warung ini juga menyediakan menu ayam goreng kremes, telur, dan menu lain.

”Menu yang lain itu untuk tamu yang tidak suka pedas. Garang asem kan pedas, pakai cabai rawit segini, lho,” jelas Yully (31), pemilik Sari Rasa, sambil menunjukkan sekepal cabai rawit merah. O… apa hanya dengan melirik wajah kami, pelayan tadi bisa menyimpulkan kami ini penyuka makanan pedas?

Segar dan asam tomat

Begitu kami buka bungkusan daun pisang yang masih panas kemepul, yang terlihat adalah tomat sayur begitu banyak. Setelah disingkap, ternyata satu potong ayam kampung tersembunyi di bawahnya. Inilah yang membikin garang asem ini begitu segar. Belasan iris tomat sayur dan kuah tanpa santan. Rasa pedas justru membikin kuah makin segar. Huhh hahhh….

”Kami tidak menakar tomatnya per bungkus berapa iris. Pokoknya, kami memasak 1,5 kuintal tomat sayur untuk 250 ekor ayam kampung. Kalau sudah dicampur, barulah dimasuk-masukkan ke daun pisang. Jadi, jumlah tomatnya bisa berlainan, tetapi selisihnya ya paling seiris-dua iris,” jelas Yully.

Kuahnya dulu kami cicip, ternyata rasanya memang lezat, pas di lidah kami. Pedasnya pun cespleng. Sesuap demi sesuap dan habislah satu bungkus garang asem. Pedasnya garang asem ditambah teriknya sengatan matahari di luar plus panasnya warung yang tidak berpenyejuk ruangan membikin keringat bercucuran. Justru, di sinilah titik nikmatnya.

Erwin dan Freddy, warga Jakarta yang kerap bolak-balik Jakarta-Kudus, selalu menyempatkan makan siang di Sari Rasa. ”Kalau malam kadang sudah habis,” kata Freddy.

Erwin berpendapat, garang asem bikinan Yully ini istimewa karena selain bumbunya pas dan segarnya menggugah selera, juga karena daun pisang tidak dilapisi plastik. ”Banyak yang dilapisi plastik, maksudnya supaya kuah tidak bocor, tetapi rasanya jadi lain dan tidak sehat, kan,” kata pemasok alat berat ini.

Dikukus 1,5 jam

Yully tidak segan membagi resep masakannya. Bikin garang asem itu gampang, kata dia. Bumbu berupa bawang putih, bawang merah, dan kemiri ditumbuk hingga halus. Tambahkan lengkuas dan garam serta gula secukupnya. Gilingan bumbu tersebut lantas dicampur dengan air yang sudah dituang di kuali. Masukkan irisan tomat sayur dan irisan cabai rawit.

Satu potong ayam ditaruh di atas daun pisang, lalu diguyur dengan air bumbu tadi. Dan pisang ditutup dan direkatkan, lantas dikukus selama 1,5 jam. Selesai. ”Mudah banget, kan? Semua orang bisa buat,” ujar Yully. Dia menambahkan, banyak orang sudah mencoba membuat, tetapi rasanya tidak bisa selezat seperti di Sari Rasa.

Dua juru masak memegang peran utama, yakni Sakimim yang adalah paman Yully, dan Yanto. Sakimin, Yanto, dan Yully dibantu 20 karyawan yang semuanya berasal dari Purwodadi.

Menurut Yully sendiri, apa yang membuat garang asemnya menjadi begitu enak? ”Apa ya? Bumbunya mungkin pas buat kebanyakan orang. Agar gurih dan tetap sehat, kami memakai kemiri. Kalau di Purwodadi, masih banyak yang memakai santan,” sahut dia

Sumber :
Susi Ivvaty & Lusiana Indriasari
http://travel.kompas.com/read/2009/08/28/16190133/garang.asem.ayam.kampung.dari.kudus

Tengkleng Solo Bikin Ketagihan

Read more 0
Tengkleng (foto Google)
 KOTA Solo dikenal sebagai gudangnya wisata kuliner. Di kota ini, terdapat berbagai macam makanan khas yang tidak dijumpai di kota lain. Ada Nasi Liwet, Selat, dan Cabuk Rambak. Menu khas Solo lain yang sudah sangat terkenal adalah Tengkleng.

Bahan utama makanan ini adalah tulang belulang kambing yang masih terdapat sisa-sisa daging. Sekilas makanan ini hampir sama dengan gulai kambing. Namun, tengkleng memiliki perbedaan mendasar dengan gulai karena tidak dimasak dengan santan. Untuk itu, tengkleng banyak diminati karena memiliki kadar kolesterol lebih rendah dibanding sate dan gulai kambing.

Sekilas, makanan ini memang hanya terdiri dari tulang belulang kambing. Namun, jika sudah merasakannya, dijamin ketagihan. Sebab, ada kenikmatan tersendiri saat harus mencari daging kambing yang masih tersisa di tulangtulang tersebut. Di situlah letak kenikmatan dari tengkleng Solo. Saat ini, banyak dijumpai warung- warung di Kota Solo menyajikan menu makanan ini. Maklum, makanan khas ini memiliki penggemar sangat banyak. Selain sate dan gulai kambing, biasanya warung pasti menyediakan menu tengkleng.

Nah, dari sekian banyak warung di Solo, salah satu warung tengkleng yang sudah sangat terkenal di Kota Solo adalah ”Warung Tengkleng Bu Edi”. Warung ini berada di kawasan Pasar Klewer. Tepatnya, warung ini berada di bawah Gapura Pasar Klewer di sisi utara.
Warung ini hanya biasa saja dan jauh dari kesan mewah. Tempatnya kecil dan hanya menyediakan dua bangku dan kursi kayu panjang. Sedangkan sang penjual Ediyem, 59, biasanya ditemani oleh anaknya Sulistri, 31. Meski hanya warung kecil, jangan ditanya soal penggemarnya.

Warung ini pun tidak buka sejak pagi hari hingga malam seperti kebanyakan warung lain. Biasanya, begitu dibuka pembeli langsung antre. Bahkan, sering kali terjadi pembeli sudah antre meski warung belum buka. Akibatnya, pembeli yang datang belakangan sering harus kecele karena sudah habis.
Maklum, Bu Edi-begitu Ediyem akrab disapa-hanya hanya khusus menjual tengkleng. Warung Tengkleng Bu Edi biasanya mulai buka pukul 14.00 WIB. Menariknya, hanya sekitar dua jam dibuka, tengkleng Bu Edi sudah ludes terjual. Warung tersebut mulai buka pukul 14.00 WIB dan langsung tutup begitu sudah habis. Saat bulan puasa, warung tersebut juga tak luput dari serbuan pembeli. Biasanya, pembeli minta dibungkus untuk dijadikan menu berbuka puasa.

Namun, pembeli yang makan ditempat banyak juga karena tidak semua warga menjalankan ibadah puasa. Untuk menikmati tengkleng, memang ada seni tersendiri. Pasalnya, penikmat masakan ini harus memilih bagian tulang yang masih ada dagingnya. Dan untuk bisa mendapatkan sumsum yang sangat nikmat, mereka harus mengisapnya langsung dari tulang hingga keluarlah sumsum tulang yang rasanya sangat lezat.

”Mulai membuka usaha warung Tengkleng sejak tahun 1971 hingga sekarang,” jelas ibu lima anak tersebut.

Dia menuturkan, sejak merintis usaha tersebut, setiap hari dirinya dibantu anaknya membawa barang dagangan dari rumahnya di Kampung Yosodipuran RT 01/03 Kedunglumbu, Pasar Kliwon, Solo. Barang dagangan yang terdiri dari beberapa panci besar diangkut dengan menggunakan becak. Saat ini, satu porsi tengkleng beserta nasi dijual dengan harga Rp15.000.

Menariknya, nasi tengkleng tersebut tidak disajikan dengan piring ataupun mangkok.
Di warung Bu Edi, pembeli dilayani dengan menggunakan ”pincuk” atau tempat yang dibuat dari daun pisang. Sendok yang digunakan juga sendok plastik. Meski disajikan dengan sederhana, tetap saja tidak mengurangi rasa tengkleng khas Bu Edi yang sudah terkenal selama ini. Bahkan, banyak yang bilang rasa tengkleng Bu Edi tak kalah dengan tengkleng dari rumah makan terkenal di Kota Solo.

Menurut Bu Edi, selama ini biasanya dalam satu hari dirinya menghabiskan sebanyak enam ekor kambing. Untuk masak tulang kambing tersebut, dibutuhkan waktu sekitar dua jam. Hanya saja, dirinya harus membersihkan daging dan memilih serta memisahkan daging kambing dengan tulangnya. Dia memaparkan, tulang yang masih ada tersisa dagingnya dipisahkan dari daging dan juga jeroan, seperti babat, usus dan juga lidah kambing. Hal itu harus dilakukan karena tidak semua pembeli menyukai semua bagian kambing.

Salah satu anaknya, Sulistri yang selalu menemani berjualan menambahkan, harga satu porsi dari tahun ke tahun selalu mengalami perubahan. Saat ini, satu porsi tengkleng beserta nasi seharga Rp15.000. Meski begitu, biasanya warga yang datang membeli Tengkleng tidak terikat dengan porsi.
 ”Ada yang beli Rp10.000 atau Rp30.000 untuk dibawa pulang,” ujarnya. Disinggung tentang rasa yang spesial, Bu Edi maupun Sulistri hanya tersenyum.
Menurut Bud Edi, tidak ada resep khusus untuk Tengkleng buatannya. Bahkan, dia menuturkan resep maupun bahan tengkleng yang dia buat sama dengan masakan tengkleng warung lainnya.

Kalau soal terkenal, lanjutnya, mungkin karena saya yang pertama berjualan di sekitar Klewer ini. Kalau bicara rasa, menurutnya semua itu penilaian dari masyarakat. Yang jelas, tengkleng buatannya sama dengan yang lain. Terdiri dari cacahan kepala kambing, jeroan, dan kaki kambing yang dimasak selama dua jam.

Bu Edi menambahkan, dirinya mulai berjualan tengkleng tahun 1971. Saat itu, dirinya berusia 19 tahun dan meneruskan profesi sang ibu. Sehingga, bisa dikatakan usaha menjual tengkleng adalah usaha turun temurun. Pasalnya, neneknya juga menggeluti profesi yang sama berjualan tengkleng. Ditanya kenapa masih bertahan di lokasi yang kecil dan sederhana itu? Bu Edi mengaku baginya tidak masalah berjualan di lokasi yang kecil. Jika dia harus pindah ke lokasi mewah justru akan ditinggalkan oleh pembeli.

Selama ini, warungnya sudah dikenal sebagai warung tengleng gapura Pasar Klewer.

”Tetap disini tidak masalah asalkan tetap diserbu pembeli,” ujarnya. Dia menambahkan, saat ini putri keduanya juga meneruskan berjualan tengkleng di kawasan Pasar Olah-oleh Jongke.

Harapannya, karena sudah menjadi usaha turun temurun, suatu saat ini ada anaknya yang meneruskan berjualan di lokasi gapura Pasar Klewer yang selama ini menjadi ciri khasnya.

Sumber :
(Koran SI/Koran SI/tty)
Sumber : http://www.okefood.com/read/2010/09/21/299/374387/299/tengkleng-solo-bikin-ketagihan

Masakan Khas Jawa Timur

Read more 0
 Nasi Rawon

Kuliner yang kita bahas kali ini bernama Rawon, makanan berkuah ini konon katanya asli dari Jawa Timur. Mayoritas kabupaten-kabupaten yang ada di Jawa Timur pasti terdapat makanan favorit ini, bahkan mungkin sudah menyeberang sampai ke propinsi tetangga seperti Jawa Tengah dan Yogyakarta. Bahkan dulu ketika saya tinggal di Bandung juga pernah menemui warung-warung yang menjual menu Nasi Rawon ini, mungkin yang jualan berasal dari Jawa Timur.

OK langsung saja, Rawon mungkin sekilas mirip dengan kuah Gule karena warnanya yang coklat-kehitaman, karena warna ini diperoleh dari bumbu masak yang namanya Kluwek. Namun kluwek tidak hanya menghasilkan warna coklat-kehitaman saja namun aroma dan rasa yang ditimbulkan menjadikan kuah semakin gurih dan mempunyai cita rasa khas tersendiri.

Nah…isian wajib dalam rawon adalah daging sapi yang dipotong kecil-kecil/dadu. Mungkin mirip seperti jenis daging sapi yang digunakan pada daging rendang-masakan Padang. Daging ini dimasak sampai empuk dulu baru dicampur dengan kuah Rawon, namun selain daging biasanya juga disertakan lemak daging (gajih) yang menambah sensasi ketika menyantap Nasi Rawon. Selengkapnya .....

Oleh-oleh dari Solo

Wisata Kuliner


Ketika kami sekeluarga mengadakan perjalanan dengan tujuan ke Solo pada tanggal 30 Mei s/d 1 Juni 2011 dalam rangka mengantarkan putri sulungku untuk regristrasi / penyerahan dokumen sebagai kelengkapan persyaratan yang telah diterima melalui jalur PMDK atau jalur undangan berdasarkan prestasi akademik di Universitas Sebelas Maret, selama dalam perjalanan kami 3(tiga) hari Blog Sepeda sebagai sarana Transportasi dan mengenang rekan-rekan tersebut, saya menyempatkan diri mampir di warung angkringan guna mengenang masa-masa lalu sebagaimana yang saya ceritakan dalam Album senasip seperjuangan dalam Album Kenangan82 ketika saya golek ilmu di Yogyakarta. Warung angkringan yang saya ampiri adalah Warung Pak Di, Warung Makan Nasi Bandeng dan Oseng, terletak di Kompleks Mangkunegaran-Solo.


Setelah acara regristrasi putri sulung saya selesai, kemudian hari rabu, tanggal 1 Juli 2011 jam 11.30, melakukan perjalanan pulang. Setiap saya melakukan perjalanan bila lewat/melalui Kota Solo, tidak lupa selalu mampir di Pasar Gede sekedar membeli Karak (Kerupuk) kesenanganku dan sempat muter2 di kota Solo ini. Selanjutnya kami meneruskan perjalanan ke arah barat/Semarang, ketika jam sudah menunjukkan angka 13.30 kami mampir pada tempat peristirahatan di daerah Boyolali hendak melakukan kewajiban sholat dan sekalian makan siang. Di Tempat ini disebutnya Rumah Makan Semar dan dikenal dengan nama “Semar Resto” menurut saya adalah tempat yang memadai baik areal parkirnya, musholanya, ruangannya dan bahkan menunya. Semoga oleh-oleh ini bermanfaat bagi anda semua, terimakasih.


 
Powered by by: Blogger